Seni Bertanya Dalam Mempelajari Fotografi


Alkisah ada anak muda yang baru saja membeli kamera DSLR. Sebut saja namanya Niubi. Dia ingin belajar fotografi tapi bingung mau mulai darimana. Jadi dia memutuskan untuk bertanya. Dia bertanya pada seorang fotografer profesional yang dia kenal, ( profesional dalam arti kamus alias fotografi sebagai mata pencaharian ) tapi jawaban yang dia terima kurang memuaskan. Si Niubi agak jengkel dan menduga fotografer tadi kok cuek banget, jangan-jangan karena nggak rela berbagi ilmu. Terus dia mencoba jalan lain. Kali ini si Niubi bergabung dengan komunitas fotografi di internet berharap mendapatkan pencerahan. Tapi dia kecewa karena waktu bertanya malah dia mendapatkan jawaban sinis. Ada yang menyuruh dia buka google, ada yang menjadikan pertanyaannya lelucon. Si Niubi lupa kalau anggota komunitas itu jumlahnya puluhan ribu manusia (phitecantropus erectus) yang mana namanya manusia itu pasti beraneka ragam kepribadiannya. Ada yang memang benar-benar iklas mau bantu tapi mereka bingung jawabnya gimana. Ada yang memang nggak mau bantu. Ada yang niatnya memang nggak baik, dsb.

Untungnya si Niubi punya sesuatu yang banyak orang lain tidak punya yaitu "Semangat". Sementara banyak anak muda lain yang mengalami nasip seperti Niubi belum apa-apa sudah menyerah bahkan ada yang lebih parah: Gantung kamera, si Niubi tetap berusaha. Kali ini dia cari-cari jawabannya di internet. Dia sempat pusing juga karena kebanyakan artikel-artikel bagus ditulis dalam BAHASA INGGRIS. "Walah...Kok gak ditulis boso Jowo aja seeeh ??" Dia ngomel sebentar, tapi dia tidak putus asa. Namanya juga orang cinta. Janganpun kendala bahasa, kalau perlu gunung didaki, lautan diseberangi, tembok juga dijebol. Terus dia gunakan teknologi canggih: Google Translate. Ternyata hasilnya juga bikin dia rada bingung karena terjemahannya jadi rada aneh. Tapi ya tetap dia berusaha, kali ini sambil buka-buka kitab rahasia dari jaman dinosaurus: Kamus Inggris-Indonesia. Dan akhirnya dengan susah payah dia mengerti maksud artikel ini. Pelan-pelan dia juga sekarang mengerti mengapa banyak orang yang sinis pada pertanyaannya. Itu karena pertanyaannya MUSTAHIL DIJAWAB. Dan kalaupun pertanyaannya bisa dijawab, jawabannya bakal jadi dongeng 1001 malam.

Dengan penuh semangat, Si Niubi memeluk sang kekasih: Kamera barunya. Apa yang dia baca dari internet dia praktekkan saat itu juga. Ternyata hasil fotonya membuat dia terkejut sendiri sampai dia terharu. Kerja kerasnya ternyata membuahkan hasil. Masalah exposure dia sudah ngerti sedikit-sedikit, sekarang dia browse topik lain berhubung dia mau coba-coba foto model. Setelah mendapat jurus-jurus rahasia dari internet dia langsung praktekkan ke orang lain. Berhubung di rumah nggak ada orang lain, dia panggil anak tetangga buat dia jadikan praktek kerja nyata. Si Niubi jeprat-jepret anak tetangga sampai memory cardnya habis dan kameranya mengepul-ngepul (hiperbola). Dia membuat banyak kesalahan tapi berkat kesalahan-kesalahan itu dia sekarang jadi lebih mengerti.

Sekarang dengan lebih pede, si Niubi kembali bertanya pada fotografer yang tadi disebut dia atas. Orangnya masih sama lho....tapi karena sekarang si Niubi TAHU APA YANG DITANYAKAN, fotografer tadi menjawab dengan senang hati. Si Niubi mendengarkan dengan seksama jawabannya, terus dia bikin pertanyaan baru berdasarkan jawaban FG tadi. Si FG makin senang karena pertanyaan si Niubi sangat terarah dan sering mengingatkan FG tadi pada kesalahan-kesalahan yang dia buat saat pertama kali belajar fotografi.

Dear friends, ada peribahasa yang sudah bosan kita mendengarnya yaitu: "Malu bertanya, sesat di jalan". Tapi kadang kita sendiri bingung tujuan kita kemana. Jadi waktu kita tanya arah ke tujuan yang kita sendiri nggak tau, ya jelas yang mau jawab juga puyeng kepalanya. Kadang kita ini manja, kita pikir semua orang itu banyak nganggurnya, jadi kita minta tolongnya kebangetan "Bisa kamu nyetir mobil ke Sidoarjo nanti saya ngikutin dari belakang?". Nah, jangan heran kalau orang yang ditanya bakal melotot.

Belajar fotografi adalah proses yang tidak pernah selesai. Karena fotografi itu "Makin kita tahu, makin kita tidak tahu". Jaman sekarang ini sebetulnya enak sekali dibandingkan jaman dulu. Informasi tersedia begitu banyak di internet. Banyak master-master kaliber dunia membagikan ilmunya dengan gratis di internet. Padahal kalau mereka kasih seminar, harga seminarnya mahal sekali. Jadi alangkah sayangnya kalau tulisan-tulisan mereka dilewatkan. Apa yang kita tidak tahu dari tulisan itu, bisa kita tanyakan ke orang yang lebih tahu. Aku rasa manusia itu pada dasarnya baik. Asal mereka tidak sibuk, asal kita sopan, asal kita kasih pertanyaan yang terarah mereka biasanya mau menjawab. Tentunya ya ada yang memang menyimpan rahasia dan tidak mau jawab pertanyaan kita. Apakah kita harus marah? Life is too short, buddy! Buat apa? Menyalahkan orang lain karena tidak mau bantu kita adalah perbuatan yang nggak ada manfaatnya. Mending kita belajar dari peribahasa Jawa kuno: "Success is the sweetest revenge"...O yeah.

Aku menutup tulisan ini dengan menceritakan pengalamanku bertanya pada Mr Rolando Gomez. Mr Gomez bagi yang belum tahu adalah FG glamour veteran yang karya-karyanya sudah mendunia. Jadi sebelum bertanya ke dia aku browse dulu tulisan-tulisan yang dia share di internet. Sangat menarik tulisan-tulisan dia itu. Aku masih ingat ketika aku bertanya ke dia apakah teknik strobist bisa dipakai untuk pemotretan glamour. Aku tanya demikian karena aku tidak pernah sekalipun melihat ada teknik strobist menggunakan flash external di karya-karyanya. Mr Gomez adalah FG yang dibayar mahal untuk seminar-seminarnya tapi dia dengan senang hati menjawab pertanyaanku bahwa dia itu sebetulnya anti strobist. Lampu itu makin besar, justru makin bagus katanya. Mr Gomez bahkan anti menggunakan payung untuk pemotretan indoor. Katanya bagi orang Latin membuka payung di dalam rumah itu mengundang bad luck. Hahaha!

Apakah kemudian aku menuruti nasihat Mr Gomez untuk selalu menggunakan lampu besar? Tidak juga. Karena rasanya mustahil aku lakukan dalam setiap pemotretan. Lho kok aku tanya? Nah ini dia bagian penting dari seni bertanya. Bertanya itu memberi kita masukan dari sudut pandang orang yang kita tanya. Tapi tiap manusia itu BERBEDA. Kalau aku kasih pertanyaan yang sama pada FG lain, bisa jadi jawabannya berbeda dengan jawaban Mr Gomez. Mana yang benar?...Dear friends, TIDAK ADA SATU-SATUNYA JAWABAN YANG BENAR UNTUK TIAP PERTANYAAN FOTOGRAFI. Dan FOTOGRAFI BUKAN ILMU PASTI. Jadi tentunya dari jawaban-jawaban pertanyaan itu aku filter lagi mana yang bisa aku terapkan. Bagaimana aku tahu jawaban-jawaban mana yang harus kuikuti? Dari pengetahuan dan pengalaman kita sendiri. Kita pasang semua panca indera kita. Buka mata dan telinga lebar-lebar. Pengetahuan dan inspirasi bisa datang dari mana saja.

Moga-moga tulisan ini bisa berguna. Tidak ada maksud menyinggung hati siapa-siapa. Cuman sekedar berbagi pengalaman dan pengetahuan.


Yansen Sugiarto.
17 Juli 2013

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mengenal tools dasar Photoshop dalam editing

Teknik Fotografi Siluet